Menjaga Nilai Religius Lebaran Topat Di Kota Mataram

  • Mar 28, 2026
  • Fathul Aripin, S.H

Salah satu tradisi unik yang masih terjaga hingga kini adalah perayaan lebaran ketupat di Lombok, atau yang dalam bahasa setempat dikenal sebagai "Lebaran Topat."

 

Tradisi lebaran ketupat di Lombok dilaksanakan enam hari setelah Idul Fitri dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Sasak. Sekitar 90%

marakat Lombok masih aktif menjalankan tradisi ini, menjadikannya salah satu warisan budaya yang paling dinanti setiap tahunnya.

 

Lebih dari sekadar perayaan, tradisi ini menyimpan berbagai nilai luhur yang mencerminkan harmoni antara dimensi religius dan sosial dalam kehidupan masyarakat Lombok. Mari kita telusuri lebih dalam tentang tradisi yang kaya makna ini.

 

Sejarah dan Asal Usul Lebaran Ketupat di Lombok

Memahami sejarah dan asal usul tradisi lebaran ketupat di Lombok tidak bisa dilepaskan dari pengaruh penyebaran Islam di pulau ini. Tradisi yang telah mengakar selama ratusan tahun ini merupakan perpaduan harmonis antara nilai-nilai Islam dan kearifan lokal masyarakat Sasak.

 

Tradisi lebaran ketupat di Lombok telah berlangsung secara turun-temurun sejak ratusan tahun lalu. Perayaan ini memiliki kaitan erat dengan ajaran Islam tentang keutamaan puasa Syawal, yakni puasa sunnah yang dilakukan selama enam hari setelah Idul Fitri. Pelaksanaan puasa Syawal ini kemudian dirayakan dengan tradisi lebaran ketupat sebagai bentuk rasa syukur atas selesainya rangkaian ibadah puasa.

 

Dalam konteks budaya Sasak, perayaan ini memiliki posisi yang sangat istimewa. Masyarakat Sasak menyebut perayaan ini sebagai "Lebaran Nine" (lebaran perempuan), yang dipandang sebagai pasangan dari "Lebaran Mame" (Idul Fitri). Penyebutan ini bukan sekadar istilah, melainkan mencerminkan filosofi keseimbangan dalam pandangan hidup masyarakat Sasak.

 

Keistimewaan tradisi ini juga tercermin dari pengaruh kepercayaan Waktu Telu, sebuah varian kepercayaan Islam yang pernah berkembang di Lombok. Bagi penganut Waktu Telu di masa lalu, lebaran ketupat diawali dengan ritual khusus bernama sholat qulhu sataq, yaitu shalat dengan membaca surat Al-Ikhlas sebanyak 200 kali. Meski praktik ini tidak lagi dilakukan oleh mayoritas muslim di Lombok saat ini, namun hal ini menunjukkan bagaimana tradisi lebaran ketupat telah mengalami proses akulturasi budaya yang panjang.

 

Seiring berjalannya waktu, tradisi lebaran ketupat di Lombok tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga berkembang menjadi momentum penting dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Tradisi ini bahkan menjadi jembatan pemersatu antara komunitas Muslim dan Hindu di Lombok, yang terlihat dari pelaksanaan ritual Perang Topat di Pura Lingsar yang telah berlangsung sejak masa penjajahan Bali di Lombok.

 

Sedemikian budaya yg ada di lombok khususnya Mataram dalam perayaan lebaran topat di adakan di bbrapa kawasan religi yakni di kecamatan sekarnele berpusat d makam Loang balok dan makam Bintaro untuk kecamatan Ampenan  menjadi agenda tahunan pemerintah kota mataram.

 

Adapun rangkaian kegiatan dalam perayaan lebaran Topat di Makam Bintaro  dan Makam Loang balok seperti ,zikiran, ngurisan, ziarah makam serta silaturahmi para tokoh agama dan adat serta kegiatan Begibung bareng ( makan ketupat bersama ).

 

Dengan sejarah panjang dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, tradisi lebaran ketupat telah menjadi identitas kultural yang khas bagi masyarakat Lombok. Tradisi ini tidak hanya menjadi warisan budaya yang perlu dilestarikan, tetapi juga menjadi bukti bagaimana nilai-nilai religius dan kearifan lokal dapat berpadu menciptakan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.